katedralmanado.com

 

Kunjungan Duta Vatikan

 

Tampak Depan Gereja

 

Tampilan Dalam Gereja

VATIKAN - Dukungan Paus atas Konferensi Rasisme Membuahkan Kritik

E-mail Print PDF

KOTA VATIKAN (UCAN) -- Dukungan Paus Benediktus terhadap sebuah konferensi tentang rasisme dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan keputusan Takhta Suci untuk terlibat dalam konferensi itu mendapat kritikan dari kelompok-kelompok Yahudi.

Paus, yang berbicara kepada para peziarah di kediaman musim panasnya di Castel Gandolfo pada hari Minggu, 19 April, peringatan empat tahun terpilihnya sebagai paus, mengatakan bahwa konferensi 20-24 April itu “merupakan sebuah prakarsa penting karena bahkan sekarang ini, sekalipun sejarah memberi banyak pelajaran, fenomena yang sangat menyakitkan hati ini masih saja ada."

Konferensi itu, yang dibuka di Geneva, Switzerland, pada 20 April, merupakan tindak-lanjut dan peninjauan kembali atas Konferensi se-Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang Rasisme, Diskriminasi Rasial, Kebencian, dan Intoleransi rasial, yang diselenggarakan di Durban, Afrika Selatan, 2001.

Paus mengatakan, Deklarasi Durban itu mengakui bahwa "setiap orang dan individu membentuk suatu keluarga manusia yang kaya dalam keanekaragamannya" yang telah "memberi kontribusi bagi kemajuan peradaban dan kebudayaan yang menjadi warisan umat manusia."

Dokumen itu menyatakan, kata paus, bahwa “peningkatan toleransi, pluralisme, dan rasa saling menghormati itu bisa terarah pada terbentuknya sebuah masyarakat yang lebih inklusif."

"Berlandaskan afirmasi-afirmasi" dari deklarasi itu, katanya, "yang dituntut adalah tindakan tegas dan mendasar, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna menghindari dan melenyapkan segala bentuk diskriminasi dan intoleransi."

Sesungguhnya, tegasnya, "yang sangat dibutuhkan adalah sebuah program pendidikan yang menyeluruh untuk meningkatkan martabat pribadi manusia dan untuk melindungi hak-hak fundamentalnya."

Paus menegaskan kembali pandangan Gereja Katolik bahwa “hanya pengakuan martabat manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah bisa menjadi landasan pasti untuk hal seperti itu."

Paus Benediktus, yang merayakan hari ulang tahunnya ke-82 pada 16 April, mengungkapkan keinginannya yang tulus bahwa “para peserta konferensi di Geneva akan bekerja sama dalam semangat dialog dan saling menerima untuk mengakhiri semua bentuk rasisme, diskriminasi, dan intoleransi."

Bahkan sebelum konferensi itu dibuka, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu diliputi kontroversi menyangkut bahasa yang digunakan dalam draf yang oleh sejumlah negara dianggap anti-Israel dan anti-Semitis. Sesungguhnya, beberapa dari 192 negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa telah memutuskan untuk memboikot peristiwa itu. Mereka itu termasuk Australia, Kanada, Jerman, Italia, Israel, Belanda, Selandia Baru, Polandia, dan Amerika Serikat.

Takhta Suci ikut konferensi itu, walaupun  ada tekanan dari sejumlah kelompok Yahudi untuk tidak ikut.

Kenyataannya, Rabi Utama Roma, Riccardo di Segni, mengatakan kepada "La Stampa," sebuah harian berbahasa Italia, bahwa dukungan paus terhadap konferensi itu “karena adanya nasehat yang menyedihkan” dan “sulit dipahami," yang justru terjadi sebelum paus mengunjungi Tanah Suci pada 8-15 Mei.

Direktur Kantor Pers Vatikan, Pastor Federico Lombardi, yang berbicara di Radio Vatikan pada 20 April, mempertahankan keterlibatan Takhta Suci dengan mengatakan bahwa konferensi itu “merupakan suatu kesempatan penting untuk mengusung perjuangan melawan rasisme dan intoleransi."

Dia mengatakan, "mayoritas negara-negara di dunia terlibat dalam konferensi itu," dan perlu diperhatikan bahwa teks draf yang telah diubah dari konferensi itu telah disetujui oleh para peserta pada 17 April, “yang berarti draf itu sendiri diterima, karena unsur-unsur utama yang menimbulkan penolakan telah dihilangkan."

Pada 20 April, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang berbicara dalam konferensi itu, menuduh Barat memanfaatkan Holocaust sebagai "alasan" agresi terhadap Palestina, dan menggunakan agresi militer "membuat seluruh bangsa ini kehilangan tempat tinggal atas nama penderitaan Yahudi." Dia menuduh Israel rasis.

Sebagai protes, puluhan delegasi dari negara-negara Eropa meninggalkan sidang, kecuali Takhta Suci.

Mengomentari pidato Ahmadinejad, Pastor Lombardi mengatakan, "Biasa, intervensi-intervesi seperti itu dari presiden Iran itu tidak menunjukkan arah yang tepat, sekalipun dia tidak menyangkal Holocaust atau hak Israel untuk ada, dia menggunakan ekspresi-ekspresi ekstrimis dan tidak dapat diterima."

"Untuk alasan ini juga," kata Lombardi, "penting untuk menegaskan dengan jelas tentang penghormatan pribadi manusia menentang setiap rasisme dan intoleransi."

Takhta Suci, katanya, berharap bahwa konferensi itu "masih bisa mencapai maksud ini" dan itulah alasan Takhta Suci terus mengikuti peristiwa itu.

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Gereja Katedral

Banner
You are here: