PANAJI, India (UCAN) -- Ribuan umat Hindu yang percaya bahwa Bunda Terberkati Maria adalah saudari dari salah satu dewi Hindu mengikuti suatu pesta Maria di sebuah desa di Goa.
Pesta itu "tidak hanya untuk umat Katolik," tegas Irwin Fonseca, seorang wartawan dan umat Paroki St. Hironimus di Mapusa, tempat pesta Perawan Mujizat (Our Lady of Miracles) dirayakan pada 27 April.
Jumlah umat Hindu yang datang untuk acara itu membuat perayaan itu diperpanjang dengan tambahan dua hari setiap tahun, katanya.
Pada hari-hari itu, umat Hindu antri panjang untuk memberi penghormatan kepada Bunda Terberkati dan menuangkan minyak di atas patung Bunda Maria, kata Fonseca.
Patung Maria Perawan Mujizat itu ditempatkan di atas stand di paroki itu, yang diatur oleh Suster Doris D’Cunha dari Tarekat Suster-Suster Abdi Kristus.
Patung itu ditakhtakan di atas jaringan kawat baja sehingga minyak yang dituangkan di patung itu terkumpul di sebuah bejana di bawahnya. Minyak itu kemudian dijual kembali ke mereka yang antri. Setiap devosan membayar 25 rupee (US$0,50) untuk secangkir minyak. Suster D'Cunha mengatakan, kebiasaan menuangkan minyak berakar dalam tradisi Hindu.
Umat Katolik juga mengikuti praktek Hindu ini.
"Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya namun umat Katolik lain juga menuangkan minyak," kata Teresa Alcantro, seorang umat paroki, segera setelah mengikuti upacara itu.
Stand itu juga menjual replika miniatur dari bagian-bagian tubuh. Suster D’Cunha mengatakan, replika itu dipersembahkan kepada Bunda Maria untuk memohon kesembuhan dari penyakit yang berhubungan dengan bagian-bagian tubuh itu.
Chandrakant Chodenkar, seorang Hindu, mengatakan umatnya “sangat menghormati” Bunda Maria karena mereka yakin ia adalah “seorang dari tujuh saudari dari dewi-dewi kami." Setelah upacara penuangan minyak, umat Hindu juga masuk ke dalam gereja untuk mengecup kaki dari sebuah patung Maria yang lebih besar yang berada dalam gereja, dan berdoa memohon pertolongan.
Umat Hindu percaya Maria Perawan Mujizat adalah Mirabai, saudari dari dewi Hindu Lahirai, dewi utama di sebuah kuil di Shirgao-Bicholim, sekitar 15 kilometer utara Mapusa. Kuil itu merayakan pestanya pada 29 April.
Fonseca mengatakan minyak itu digunakan pada pesta Katolik karena ada sebuah keyakinan bahwa di jaman dulu, pada hari-hari pesta dari gereja dan kuil, kuil mengirim minyak ke gereja, dan gereja mengirim bunga ke kuil.
Pastor Feroz Fernandez, editor "Vavraddencho Ixtt" (sahabat pekerja), sebuah mingguan Gereja, mengatakan bahwa interaksi antaragama seperti itu "turut mempertahankan persatuan Hindu-Katolik."
Umat Katolik juga mengunjungi kuil utama Hindu untuk menyaksikan berbagai upacara Hindu, kata Pastor Fernandez, termasuk jalan di atas api dengan kaki telanjang sebagai tanda pengorbanan dan devosi.
| Comments |
|




