Minggu Biasa IV ( Tahun C )
Yer 1:4-5,17-19 ; 1 Kor 12:31-13:1 ;Luk 4:21-30
Penglihatan dan penilaian orang sekampungnya terhadap Yesus hanya berdasar pada apa yang secara lahiriah mereka lihat dan alami. Tidak melihat jauh lebih dalam dari perkataan-perkatanNya. Sabda dan karyaNya tidak mampu membangun iman, harap, dan kasih orang-orang dalam bait Allah, karena itu orang-orang sekampungNya mulai memprovokasi bahwa Ia hanyalah anak seorang tukang kayu, IbuNya Maria hanyalah seorang ibu biasa, sederhana. Tidak ada yang luar biasa dalam keluarga mereka. Bagaimana mungkin Ia menjadi seorang Putera Allah, yang mensejajarkan diriNya dengan seorang nabi? Apa yang dialami Yesus mengingatkan kita akan apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis dalam Injilnya (pada pesta natal) : Dia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya tidak menerimaNya” (Yohanes 1:11). Yesus sendiri menyadari sungguh hal ini karena itu ia berkata “... sesungguhnya tidak ada nabi yang dihormati di tempat asalnya” ( Luk. 4:24).
Umat sekalian, menjadi nabi adalah sesuatu panggilan seperti dilukiskan dalam bacaan 1. Panggilan Yeremia untuk bangsa-bangsa. Panggilan Yeremia adalah panggilan bagi setiap orang terutama yang mengaku orang Kristen. Panggilan ini, seperti dialami Yeremia, selalu menantang resiko bukan hanya atas nama baiknya, harga dirinya tetapi juga atas nyawanya sendiri, Panggilan yang menuntut pemberian diri rela menjadi korban. Panggilan yang semakin menjadikan dirinya sejati ( Seperti harapan tema besar APP Gereja Katolik Indonesia) terutama di jaman sekarang ini dimana tawaran nilai-nilai baru membanjir begitu dahsyat sehingga seperti terjadi kondisi anomi. Terjadi kerancuan nilai-nilai kemanusiaan. Namun pada saat yang sama teguran saja sering dirasa amat menggangu rasa ketenangan, kenyamanan. Maka sikap kompromi adalah pilihan. serba sulit. Padahal sikap kompromistis adalah sikap yang tidak ada pendirian, sikap mau pura-pura atau kasarnya munafik, adalah tantangan dan cobaan yang rill, nyata bagi orang kristiani yang notabene adalah seorang nabi.
Umat sekalian, mari kita coba dan coba lakukan dalam keluarga kita. Kita menjadi nabi satu sama lain. Dalam keluargapun kita tidak lepas dari segala cobaan, godaan, dan kesulitan. Kalau kita mau menjadi nabi dan berusaha makin sejati, segala potensi dalam keluarga kita akan dengan sendirinya tumbuh aktif dan berbuah. Kita lebih sadar tidak mau terjebak dengan cepat menilai atau menghakimi dari apa yang nampak dari luar saja. Secara personal lebih terbuka untuk saling memberi, saling mengutamakan, saling melindungi terutama saling percaya dan saling menerima apa adanya serta lebih iklas rela memaafkan dan mengampuni. Dengan perkataan lain dalam keluarga kita tidak pernah berhenti belajar dan mempelajari satu sama lain keunikan pribadi-pribadi setiap anggota keluarga. Mari kita jadikan keluargaku keluarga yang sejati, yang ada iman – harap dan kasih. Semoga
Jhon Karundeng, Pr
| Comments |
|









