Minggu – 07 Februari 2010
MINGGU BIASA KE V
“ JANGAN TAKUT, JADILAH “ PENJALA KELUARGA”
(Yesaya 6:1-2,3-8. Korintus 15:3-8,11. Lukas 5:1-11.)
Saudara-Saudari terkasih, Bapak-Ibu, Pemuda-Pemudi, Anak-anak, kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Hari ini kita diajak memperhatikan PANGGILAN DAN PERUTUSAN dalam kerajaan Allah. Proses “panggilan” itu terjadi selama empat minggu, dimulaikan dengan Kisah Pembaptisan Kristus. Pesta kawin di Kana. Kotbah Yesus dirumah ibadat – Yeremia dikuduskan dan ditetapkan sebagai nabi dan hari minggu ini menjadipuncak pangilan, dimana Yesaya mendengar suara Tuhan , “Siapakah yang akan Kau utus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Sahut Yesaya, Ini aku, utuslah aku.”
TUHAN MEMANGGIL MANUSIA MENJAWAB
KESELAMATAN MANUSIA berawal dai Allah sendiri. Allah yang mula-mula berinisiatif, Allah yang mula-mula memanggil-reaksi dan jawaban dari pihak kita manusia. Allah memanggil dan manusialah yang memberikan jawaban.
Saudara-Saudari terkasih. Ketiga bacaan hari minggu ini, dengan cukup jelasmelukiskan Panggilan Allah dan jawaban dari manusia. Allah memanggil, mausia bebas memberikan jawabannya.
- Bacaan I melukiskan panggilan dan jawaban dari Yesaya.
- Bacaan II melukiskan panggilan dan jawaban dari Paulus.
- Bacaan III melukiskan panggilan dan jawaban Nelayan Genesaret.
Bacaan I : Panggilan dan jawaban dari Yesaya :
“Aku melihat Tuhan duduk diatas takhta yang tinggi... Para Serafim berdiri diatas singgasana... mereka bersahut-sahutan mengatakan : “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah semesta alam....... bergoyanglah alas ambang pintu, rumah itupun dipenuhi dengan asap. “Lalu kata Yesaya :”Celakalah aku. Aku binasa. Aku ini seorang najis bibir, dan aku tinggal diantara bangsa-bangsa yang najis bibir. Tetapi seorang dari Serafim terbang mendapatkan aku, ditangannya ada bara, disentuhkannya bara itu pada mulutku dan ia berkata : Lihat aku telah menyentuh bibirmu maka kesalahanmu telah dihapuskan dan dosamu telah diampuni. Lalu terdengarlah suara Tuhan berkata: Siapakah yang akan Kau utus, dan siapakah yang mau pergi untuk aku?” sahut Yesaya : Ini aku, utuslah aku.” Inilah jawaban bebas dari manusia menanggapi panggilan dari Allah.
Bacaan II : Panggilan dan jawaban dari Paulus :
Surat Paulus kepada umat di Korintus, dimana Paulus sendiri melukiskan pengalaman hidupnya, siapakah Kristus dalam hipudnya. Ungkapan Paulus : “Kristus yang telah mati karena dosa-dosa manusia. Ia telah dikuburkan. Iatelah bangkitkan pada hari yang ketiga. Ia yang telah menampakan diri kepada Kefas, dan kepada kedua belas murid-Nya, juga kepada lebih dari lima-ratus orang, juga kepada Yakobus, juga kepada semua rasul-rasul dan yang palingakhir Yesus menampakan diri kepada Paulus, “kepadaku” katanya sama seperti anak yang lahir sebelum pada waktunya, aku yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karuia tiu tidaklah sia-sia bagiku. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua, karena kasih Allah menyertai aku, dan inilah yang kami wartakan.
Allah memanggilku manusia menjawab. Perjumpaan Yesus dengan Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. “ada cahaya memancar dari langit, mengelilingi dia. Dia rebah ketanah dan terdengarlah suara “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya aku. “ Siapakah, Engkau Tuhan” Akulah Yesus yang kau aniaya itu. “Kis. 9:3-6. Jawaban dari Paulus “kasih karunia Allah tidaklah sia-sia baginya, sebaliknya ia katakan “aku telah bekerja lebih keras dari mereka semua, karena kasih Allah menyertai aku”
Allah memanggil dan Paulus menjawab panggilan Allah dengan bekerja lebih keras daripada mereka semua.
Bacaan III : Panggilan dan jawaban Nelayan-nelayan Genesaret
Bacaan Injil Lukas hari ini melukiskan ajakan Yesus kepada Simon, “bertolaklah ketempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab “Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Ternyata setelah mereka melakukannya mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehinga jala mereka mulai koyak. Mereka memanggil perahu yang lain untuk membantu dan kedua perahu diisi dengan ikan hingga hampir tenggelam. Melihat hal itu Simon tersungkur didepan Yesus dan berkata : Tuhan pergilah daripadaku karena aku ini seorang yang berdosa. Lalu kata Yesus kepada Simon, juga kepada Yakobus dan Yohanes: “jangan takut, mulai dari sekarang, kamu akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahu kedarat mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus.”
Allah memanggil manusia menjawab.”jangan takut mulai sekarang kamu akan menjala manusia.” Jawaban mereka ialah :”mereka menghela perahu-perahunya kedarat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus.
BAGAIMANAKAH SIKAP KITA DAN APAKAH JAWABAN KITA.
Saudara-Saudari terkasih. Dari pengalaman hidup kita menyadari bahwa kita dapat mengambil sikap dari setiap panggilan itu, dan kita juga dapat membari satu jawaban terhadap setiap panggilan itu, namun yang terpenting yang harus kita sadari ialah bahwa sikap apapun dan jawaban apapun yang kita berikan terhadap panggilan Allah itu, butuh selalu suatu, “proses pertumbuhan dan perkembangan” Dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan kita butuhkan suatu pembelajaran kita butuhkan perbaikan, kita buthkan jatuh bangun dari kegagalan-kegagalan. Memang dibutuhkan dialog yang menghasilkan persetujuan “Allah memanggil manusia menjawab” siapakah yang akan kuutus? “inilah aku utuslah aku” disini terjadilah persetujuan dalam dialog – juga seperti kata Yesus kepada nelayan-nelayan Genesaret –“mulai sekarang kamu akan menjala manuasia” mereka langsung menghela parahunya kedarat, meninggalkan segala sesuatu lalu mengikuti Yesus. Dialog persetujuan terjadi, namun yang terpenting yang perlu dikembangkan dan diusahakan terus menerus ialah bertumbuhnya SUATU NIAT YANG NYATA DAN MENGHIDUPKAN. Mungkin sikap pengalaman Paulus dapat kita contohi, yang menyebut diri “sebagai anak yang lahir sebelum waktunya” – Tetapi karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku tidaklah sia-sia, sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua, tetapi bukannya aku melainkan kasih karunia Allah yang menyertai Aku dan itulah yang kami wartakan dan yang kami imani. “Panggilan Paulus dan panggilan para Rasul dalam menyikapi panggilan dan perutusannya dalam pertumbuhan dan perkembangannya dapatlah juga menjadi contoh teladan pertumbuhan dan perkembangan panggilan dan perutusan kita.
MANAKAH NIAT YANG NYATA DAN MENGHIDUPKAN PANGGILAN DAN PERUTUSAN KITA.
Saudara terkasih.-. Gereja sebagai masyarakat kaum beriman mempunyai tradisi dan kebiasaan yang mampu menopang dan melestarikan kehidupan menggereja dan membangun jemaat beriman.- Dalam APP 2010 dan juga dalam tahun Keluarga Kevikepan Manado 2010 – kita ditantang untuk mengamalkan dan menyegarkan “Keluarga-Keluarga Katolik kita dengan Tema “Hidup dalam Keluarga” Dengan pertanyaan “Keluargaku Sejati – Sejati Keluargaku”. Sejati Keluargaku, Keluargaku Sejati.” Selain pengamalan dan penyegaran Keluarga kita butuh juga mewariskannya kepada Generasi yang akan datang. –Marilah kita sebagai ”Keluarga Katolik” ditahun 2010 ini kita “ Tampil beda “ –mari kita coba menghayati, melestarikan dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dapat kita tumbuhkan dalam keluarga-keluarga kita antara lain :
1. BERHIMPUN PADA HARI MINGGU.
Pada Hari Minggu Umat Katolik wajib berhimpun untuk Perayaan Ekaristi atau untuk Perayaan Sabda. Kita berkumpul untuk merayakan Misteri Paskah kita kenangkan sengsara, Wafat, Kebangkitan dan Kemuliaan Tuhan Yesus. Mendengarkan Sabda Allah dan berpartisipasi dalam Ekaristi- sujud dan bersyukur kepada Allah. Betapa indah, Bapa-Ibu-Anak bersama ke gereja.-
2. MEMBACA KITAB SUCI.
Semoga Khasanah Kitab Suci terbuka lebar dalam Keluarga.- Allah bersabda kepada Keluarga.- Membaca Kitab Suci berarti mengenal Kristus.- Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal akan Kristus.- Dengan membaca Kitab Suci banyak orang telah memperoleh pengalaman dan serta kekuatan iman yang mengagumkan. Usahakanlah Keluarga “ Tanpa Hari Tanpa Kitab Suci.”
3. MELAKSANAKAN IBADAT HARIAN.
Kristus mengajak “Orang harus selalu berdoa tidak jemu-jemu “ Luk: 18.1 marilah kita selalu mempersembahkan kurban syukur kepada Allah.- Ibr.13:15.- Paulus menandaskan agar Umat berdoa setiap waktu. Efesus 6:18 keluarga adalah “Gereja kecil” berdoa bersama dalam keluarga – anggota keluarga berhimpun bersama dalam nama Tuhan – “Dimana dua atau tiga orang berhimpun dalam nama-Ku, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka! Mat.18:20. A family that prays together stays forever. Keluarga yang berdoa bersama lestari selamannya. Doa pagi, doa malam, sebelum dan sesudah makan, doa angelus, doa novena, doa rosario, Jalan Salib, Doa Litani. “Prays together stays together,”
4. BERDOA PRIBADI.
Keluarga juga secara pribadi dapat masuk kedalam kamar, seperti yang dianjurkan Yesus. Masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah, Bapamu yang ada ditempat yang tersembunyi, melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu. Mat 6:6.- menjadi “ a man of prayer”
5. KELUARGA TERLIBAT DALAM JEMAAT SETEMPAT-LINGKUNGAN-STASI-PAROKI.
Setiap anggota Jemaat/keluarga punya tugas dan peran yang khas dan tak tergantikan, terlibat dalam Panca Perutusan Gereja Koinonia –Kerugma- Liturgia – Diakonia dan Martyria baik dalam stasi maupun paroki, membantu dan terlibat dalam kebutuhan-kebutuhan gereja. – menjadi “Rasul dalam gereja”
6. TERLIBAT DALAM MASYARAKAT :
Dalam Kotbah dibukit setiap anggota keluarga bagaikan “garam dan terang dunia” Mat. 5:13-16. Keterlibatan anggota keluarga sesuai dengan Amal Kasih. Hendaklah keluarga terlibat dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecamasan masyarakat terutama yang miskin dan terlantar – memberi makan orang lapar. Memberi minum orang yang haus- memberi perlindungan orang asing- memberi pakaian orang yang telanjang – melewat orang sakit – mengunjungi orang yang dipenjarakan- menguburkan orang yang mati. – Berbahagialah keluarga yang dapat menjadi suri teladan bagi masyarakat. “A man for others”
7. KELUARGA YANG BERPUASA DAN BERPANTANG.
Puasa adalah ungkapan tobat, dan sekaligus merupakan ulah doa yang hangat. Gereja sangat menghargai Keluarga yang mengadakan Puasa sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa bermanfaat untuk membangun semangat pengendalian diri dan menumbuhkan semangat setia kawan dengan sesama yang berkekurangan. Gereja mempunyai kebiasaan untuk berpantang. Pantang dan Puasa dilakukan agar perhatian kita lebih banyak waktu untuk berdoa, melaksanakan olah tobat dan menjalankan karya amal – sebelum komuni kudus kita adakan puasa pantang sejam sebelum komuni. – keluarga yang biasa berpuasa dan berpantang adalah keluarga yang tahu membatasi diri pada keenakan diri demi kesehatan rohani jasmani keluarga.
8. KELUARGA YANG MEMERIKSA BATIN
Dewasa ini manusia semakin sibuk, untuk mengimbangi sikap lahiriah ini, kita perlu meningkatkan olah batin, mengadakan renungan dan mawas diri. – dengan pemeriksaan batin kita dibantu untuk jujur dihadapan Allah, kita dapat menyadari dan mengakui kekurangn yang tak dapat kita tutupi. Sebab kalau kita berkata kita tidak berdosa, kita menipu diri dan kebenaran tidak ada didalam kita (1 Yoh. 1:8). – keluarga yang tahu mengadakan pemeriksaan batin, akan semakin menyadari akan kebaikan Allah dan membangkitkan penyeselan yang tulus atas dosa. – keluarga yang tahu memeriksa batin akan membawa keluarga memberantas cacat pokok, atau kebiasaan-kebiasaan buruk dalam keluarga seperti kemalasan, kesombongan, kemarahan, kebencian, kerakusan, kikir, benci, irihati, dengki, cemburu, dan lain sebagainya.
9. KELUARGA YANG MENGAKU DOSA DIHADAPAN IMAM SECARA TERATUR
Inti kehidupan Kristiani Katolik adalah bertobat, meninggalkan dosa dan kegelapan lalu hidup sebagai anak-anak terang. – Efesus. 5:8. Orang yang bertobat adalah orang yang dengan tulus menyadari kelemahan dan kedosaannya dan dengan rindu mendambakan perdamaian kembali dengan Allah, dan dengan sesama warga, seperti anak yang hilang yang kembali kepada bapanya. – Lukas 15:11-32. Yesus sendiri bersabda “akan ada sukacita besar karena satu orang berdosa yang bertobat.- Luk 15:7. – tobat berpuncak pada pengakuan dosa dan pemberian pengampunan dihadapan Imam. – keluarga yang biasa mengaku dosa secara teratur adalah keluarga yang selalu diliputi oleh rekonsiliasi atau perdamaian kembali. – perdamaian inilah yang akan membawa selalu sukacita karena penyegaran dan hidup baru kembali. Dimana Allah sendiri mendamaikan orang berdosa dengan diri-Nya. 2Kor.5:18 dengan demikian keluarga menjalin kembali ikatab yang baik dengan Allah dan sesama warga gereja dan masyarakat. – Keluargaku sejati – sejati Keluargaku.
Saudara-Saudari terkasih, -marilah hari ini kita sadari kembali akan panggilan dan perutusan kita Allah memanggil – manusia menjawab. – Maka bersama dengan Yesaya kita dapat menanggapi dan menjawab panggilan Tuhan kepada kita “inilah aku, utuslah aku” dan bersama dengan Paulus kita juga dengan bangga dapat mengatakan “karena kasih karunia Allah tidaklah sia-sia dalam diri kita” maka kita berani dan rela bekerja lebih keras lagi, sebagai pribadi bahkan terlebih sebagai keluarga ditahun keluarga ini, keluarga kita tampil beda, karena damai sejahtera dalam kelaurga kita. – Dan bersama penjala-penjala dan nelayan-nelayan Genesaret kita pegang teguh kata-kata Yesus “jangan takut mulai sekarang kamu menjadi penjala manusia” dan ditahun keluarga ini “jangan takut, kita menjadi penjala keluarga – sambutlah yel-yel ini :
“DAMAI SEJAHTERA KELUARGAKU – JAWAB KELUARGAKU DAMAI SEJAHTERA”
“KELUARGAKU DAMAI SEJAHTERA – JAWAB, DAMAI SEJAHTERA KELUARGAKU”
“KELUARGAKU SEJATI – JAWAB : SEJATI KELUARGAKU”
“SEJATI KELUARGAKU – JAWAB : KELUARGAKU SEJATI”
“BERDOA BERSAMA – JAWAB : LESTARI SELAMANYA”
“LESTARI SELAMNYA – JAWAB : BERDOA BERSAMA”
**************************
Pst. Marcel Rarun,MSC
| Comments |
|




