Bacaan I : Kej 18:1-10a; Bacaan II : Kol 1:24-28; Injil : Luk 10:38-42
‘MAMPIR...!’
Menarik disimak bahwa kita mengimani dan memiliki seorang Pemimpin bernama Yesus yang mempunyai semboyan pelayanan “berkeliling sambil berbuat baik – per transiit benefaciendo” yang dalam perjalanan-Nya senantiasa sedia dan sudi bejumpa dengan siapapun. Kesuka-sudian ini bukan karena terdorong oleh pretensi popularitas tetapi sungguh keluar dari hasrat pelayanan tulus (ingat bacaan Injil Minggu lalu: datang dari kebaikan hati yang siap berkorban demi kesembuhan yang hidup sesama teraniaya) untuk menggugah, mengajak, mengingatkan bahkan menegur setiap orang yang dijumpai untuki tiba pada pemilikan kebermaknaan hidup, kesukacitaan karya dan pelaksanaan kehendak Allah.
Bapa, ibu, saudara-saudari, kaum muda dan anak-anak terkasih, Yesus yang sedang berjalan kali ini tiba di sebuah kampung (Kampung ini tidak diberi nama. Saya mengusulkan kita memberi nama sesuai dengan nama kampung kita masing-masing). Seorang perempuan bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Entah alasan apa Yesus mampir (bahasa Manado, ‘singgah’) di rumah Marta yang juga mempunyai seorang saudara bernama Maria. Menurut saya, Yesus mampir karena ada orang yang berkenan menerima Dia. Yesus mampir karena Dia butuh tempat untuk beristirahat sejenak. Yesus mampir untuk berjumpa intensif dengan orang-orang serumah. Yesus mampir di sebuah rumah untuk berekoleksi (menimbah kekuatan dari persekutuan sebuah rumah = keluarga).
Yesus yang mampir adalah pribadi yang tidak memerlukan pelayanan ekstra dengan menyediakan macam-macam sehingga memunculkan kekhawatiran yang berujung kecemburuan dengan orang paling dekat, Marta mengaduh kepada Yesus untuk menegur Maria saudaranya agar membantu melayani karena Dia sendiri memiliki semboyan hidup “karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang “ (Mark 10:45)
Artinya Yesus yang mampir adalah Dia yang disamping menghargai penerimaan (tindakan Marta) juga yang mau duduk dekat (tindakan Maria). Berhadapan dengan Yesus adalah sangat bagus menerima sekaligus menjalin komunikasi yang intensif dengan Dia dalam rupa duduk dekat di kaki-Nya (=mendengarkan Dia). Karenanya Dia tinggal sesaat di rumah keluarga ini, keluarga Marta dan Maria.
Maka Yesus menegur Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya”.
Jadi Yesus memberitahukan yang perlu itu kepada Marta yaitu kehadiran Dirinya. Yesus yang hadir di rumah mereka adalah jawaban karena bersama Yesus segala perkara akan tuntas teratasi. Bersama Yesus merupakan peristiwa penuh rahmat yang luar biasa sehingga jangan diabaikan dan dihilangkan oleh kesusahan dan kekuatiran yang ujung-ujungnya mendatangkan rasa iri dalam keluarga sendiri. Ingat, ada cerita tentang seorang serdadu yang berjalan berhari-hari mencari Yesus untuk mengundang Dia datang ke rumahnya agar anaknya boleh disembuhkan. Yesus yang hadir di rumah pasti membawa kelepasan, pemulihan dan sukacita. Sekarang saatnya fokus untuk berjumpa dengan Yesus yang sudah hadir bahkan dekat di rumah.
Fokus untuk berjumpa dengan Yesus yang merepresentasikan diri sebagai TAMU sejalan dengan gambaran bacaan pertama ketika Abraham menjadi tuan rumah yang baik melayani tulus dan tuntas kepada tiga tamu istimewa yang mampir di kemahnya; sehingga pahalanya adalah isterinya Sara dipulihkan dari aib tidak mempunyai keturunan menjadi ibu yang berketurunan (=membawa dan memberi kehidupan) “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang putera. Demikian pula dalam bacaan II, Yesus yang hadir sebagai TAMU di sebuah rumah, sebuah keluarga oleh kesaksian Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose adalah, “Kristus ada di tengah-tengah kami, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Kristus yang memberi kesempurnaan”.
Nah….,teguran Yesus kepada Marta hendaknya juga membuat kita mawas diri jangan sampai kesibukan-kesibukan manusiawi kita membuat kita abai terhadap hal-hal yang indah dalam kehidupan kita sebagai orang beriman yakni perjumpaan dengan Allah. Apalagi Allah yang sendiri sudah datang ke rumah kita, yakni Yesus. Yesus yang mampir di rumah kita pasti membuat rumah itu memiliki anggota-anggotanya mampu mengupayakan kehidupan yang tanpa cela, berlaku jujur, berkata benar dalam hatinya, tidak memfitnah dengan lidahnya, tidak berbuat jahat terhadap saudaranya, tidak mendatangkan nista kepada sesama, yang menjauhi orang berdosa dan memberi hormat kepada yang takwa, tidak meminjamkan uang dengan makan riba, tidak mau memungut uang suap untuk merugikan orang yang tak bersalah (bdk. Mzm tanggapan, Mzm 14:2-3ab.3cd-4ab).
Orang-orang serumah yang bersama Yesus pasti memiliki ketetapan hati dan ketulusan untuk menyimpah sabda Allah seperti Maria duduk dekat kaki Tuhan dan menghasilkan buah berkat ketabahannya (bdk. bait pengantar injil, Luk 8:15)
Lalu….warta gembira apa yang boleh kita bawa pulang?
Bukalah rumahmu untuk kunjungan Yesus = terima Yesus (tindakan Marta)
Sediakan waktu untuk Yesus bicara = duduk dekat kaki Tuhan (tindakan Maria)
Serahkan segala kesusahan dan kekuatiranmu kepada Yesus agar engkau tidak dicumbuhi oleh iri hati dan kemunafikan.
Rhein Saneba pr
| Comments |
|









