katedralmanado.com

 

Kunjungan Duta Vatikan

 

Tampak Depan Gereja

 

Tampilan Dalam Gereja

Minggu Biasa XVII, 25 Juli 2010

E-mail Print PDF

Bacaan: Kej 18:20-32, Kol 2:12-14, Luk 11:1-13

JIKA KITA PUNYA KEHENDAK . . . .

Saudara-i yang terkasih dalam Tuhan kita, tak dapat dipungkiri, masing-masing kita memiliki harapan atau cita-cita tertentu. Ketika kenyataan sesuai cita-cita atau harapan, kita pun akan senang. Sementara ketika kenyataan tidak sesuai harapan, bukan tidak mungkin kita bersedih, bahkan putus asa.

Apa yang perlu kita buat dengan harapan atau cita-cita kita? Pantaskah kita memiliki lebih dari satu atau bahkan banyak harapan? Bisa jadi kita akan berpikir, daripada kecewa dengan harapan atau cita-cita yang tidak kesampaian, lebih baik tidak usah bercita-cita.

Tentu saja kita pantas dan layak memiliki harapan dan cita-cita. Bacaan ke-2 dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose, membantu menegaskan betapa kita berharga di mata Tuhan. Karena itulah Tuhan mengampuni pelanggaran kita (bdk. Ay14: menghapus surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita). Yang tak kalah pentingnya pula, ialah Tuhan tidak akan membiarkan kita berusaha sendiri. Ketika kita berdoa kepada Tuhan, Ia akan memperhatikan kita.

Perikop Injil pada hari ini, menunjukkan bahwa Allah begitu baik. Kalau bapa yang jahat sekalipun tahu memberikan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Allah sendiri. Dia yang adalah Bapa yang baik hati, pastilah akan memberikan apa yang dibutuhkan oleh anakNya. Tentu saja permohonan kepada Bapa harus juga dibarengi dengan usaha yang sungguh. Semoga kita masih ingat salah satu pesan dari kisah Maria dan Marta hari Minggu lalu; doa maupun karya adalah sama penting. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus tentang seseorang yang meminjam roti dari sahabatnya. Karena menerima tamu mendadak pada malam hari, yang bersangkutan harus berusaha mendapatkan roti untuk tamunya. Maka ia pun tidak malu meminjam roti dari sahabatnya. Usaha tersebut, tidaklah sia-sia.

Perumpamaan Yesus ini kiranya makin menegaskan: jika kita punya harapan, cita-cita, haruslah kita berusaha. Tantangan yang ada, bukan berarti membuat kita menyerah. Kata-kata tidak malu, mengingatkan kita akan salah satu hambatan dalam mencapai tujuan kita. Itulah rasa malu. Jika kita tahu kebaikan dari tujuan kita, kita tak perlu malu.

Satu hal yang juga perlu kita ingat dalam cita-cita atau harapan kita, ialah kebaikan untuk orang lain. Dalam bacaan I, digambarkan bagaimana Abraham membujuk Tuhan supaya tidak membabi-buta terhadap Sodom karena ada juga orang-orang yang tidak bersalah di sana. Ketika kita memilih, menetapkan tujuan kita, tentunya itu berkaitan dengan kebaikan kita. Alangkah indah jika kita juga memperhatikan orang lain, sehingga apa yang kita usahakan, tidak menjadikan orang lain korban. Malahan, apa yang kita buat, akan memberikan kebaikan tidak hanya bagi diri sendiri.

Sekali lagi, kita memang pantas punya harapan; kita pantas hidup dengan cita-cita. Dari sana, jelas kita sadar bahwa kita perlu berusaha dan memohon campur tangan Tuhan. Namun, kita tetap kembali ingat bahwa dalam doa yang Yesus ajarkan, kita meminta “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu”. Dalam doa Bapa Kami, kita mengatakan “Bapa kami yang di surga, dimuliakanlah nama-Mu. . . . Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga". Apapun yang kita cita-citakan, kehendak Tuhanlah di atas segala-galanya. Nama-Nyalah yang sepatutnya dimuliakan, bukannya nama kita. Berarti, doa bukan sekedar permohonan supaya cita-cita dan harapan kita yang terjadi. Doa juga berarti keterbukaan hati kita pada kehendak Tuhan, pada rencana Tuhan sendiri. Termasuk jika kehendak-Nya tidak sejalan dengan kehendak kita. Apalagi, dalam Kitab Yesaya 55:8, Tuhan mengingatkan bahwa rancanganNya bukan rancangan manusia. Apakah yang kita rasakan ketika kehendak kita terjadi, dengan kata lain seturut dengan kehendak Tuhan? Apakah kita bersyukur kepadaNya atau justru lupa karena terlalu bergembira. Sebaliknya, ketika kehendak kita tidak terjadi, apakah kita kecewa, bahkan putus asa, hingga menyalahkan Tuhan?

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Gereja Katedral

Banner

Yang Hadir Saat Ini

We have 1 guest online
Apakah Anda Seorang
 
You are here: